KEMENKO PMK -- Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Woro Srihastuti Sulistyaningrum menekankan pentingnya keterlibatan keluarga, guru, dan komunitas agar teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) dapat dimanfaatkan secara sehat, aman, dan bertanggung jawab oleh anak-anak.
Hal tersebut disampaikan perempuan yang akrab disapa Lisa itu saat membuka kegiatan Digital Experts Talk #24 bertajuk "Dari Pedoman ke Praktik: Memperkuat Peran Pendidik, Keluarga, dan Komunitas dalam Pemanfaatan Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial di Pendidikan" yang diselenggarakan secara daring oleh Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada bersama Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia Office, pada Senin (12/5/2026).
Lisa menyampaikan bahwa anak-anak saat ini tumbuh sebagai generasi digital native yang sejak kecil hidup berdampingan dengan gawai dan internet. Berdasarkan kajian UNICEF Indonesia tahun 2023, anak menggunakan internet rata-rata lebih dari lima jam setiap hari. Kondisi tersebut membuat ruang digital turut memengaruhi pola pikir, perilaku, hingga cara anak memahami lingkungan sekitarnya.
"Karena itu, isu teknologi digital dan AI tidak bisa dilihat hanya sebagai urusan pendidikan saja. Di dalamnya ada isu keluarga, pengasuhan, kesehatan mental, pelindungan anak, sampai kualitas lingkungan sosial tempat anak tumbuh," ujar Lisa.
Ia menilai keluarga memiliki peran sangat penting karena rumah merupakan tempat pertama anak belajar menggunakan teknologi. Anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan orang tua, tetapi juga dari kebiasaan yang mereka lihat setiap hari, termasuk cara orang tua menggunakan gawai dan berinteraksi di ruang digital.
Lisa juga menyoroti berbagai tantangan yang muncul di ruang digital, mulai dari perundungan siber, pelanggaran privasi, paparan konten negatif, hingga pornografi daring pada anak. Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Tahun 2024, sebanyak 14,49 persen anak laki-laki dan 13,78 persen anak perempuan pernah mengalami perundungan siber sepanjang hidupnya.
"Ruang digital kita masih menyimpan banyak risiko bagi anak-anak. Karena itu, tanggung jawabnya tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah atau keluarga saja. Semua pihak perlu ikut terlibat," katanya.
Selain risiko yang terlihat langsung, Lisa juga mengingatkan adanya dampak jangka panjang akibat konsumsi konten digital secara berlebihan. Salah satunya adalah fenomena brain rot, yaitu menurunnya kemampuan fokus dan berpikir karena terlalu sering mengonsumsi konten singkat secara terus-menerus.
Menurutnya, kebiasaan serba instan dapat membuat anak terbiasa mencari hasil cepat tanpa melalui proses berpikir, membaca, atau memahami sesuatu secara mendalam. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi konsentrasi belajar, daya juang, dan empati sosial anak.
Pemerintah sendiri telah menerbitkan SKB 7 Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan AI di Jalur Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal. Lisa mengatakan kebijakan tersebut menjadi penting karena menempatkan sekolah, keluarga, dan komunitas sebagai satu kesatuan ekosistem pembelajaran.
"Guru tetap punya peran utama sebagai pendamping proses belajar anak. Teknologi tidak menggantikan guru. Justru guru membantu anak memahami kapan AI bisa digunakan dan bagaimana menggunakannya secara bijak," ungkap Lisa.
Dalam kesempatan tersebut, Lisa juga mengajak keluarga untuk mulai membangun kebiasaan sederhana melalui Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga atau SatuJamKu yang telah diluncurkan pemerintah pada Februari 2026 lalu. Melalui gerakan ini, keluarga diajak meluangkan minimal satu jam tanpa gawai untuk makan bersama, berbincang, membaca, beribadah, atau melakukan aktivitas bersama lainnya.
Kegiatan Digital Experts Talk #24 turut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Anggota Gugus Tugas Pembangunan Talenta Digital dan Kecerdasan Artifisial Nasional Institut Teknologi Bandung Ayu Purwarianti, Wakil Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi Asep Kambali, serta guru dan pegiat pendidikan berbasis teknologi digital dan AI Suhardy Amir.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur, di antaranya perwakilan tujuh kementerian penandatangan SKB, tenaga pendidik, organisasi masyarakat sipil, organisasi internasional, akademisi, universitas, komunitas literasi digital, hingga masyarakat umum yang mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom dan siaran langsung YouTube CfDS UGM.
Melalui forum ini, Kemenko PMK berharap penguatan literasi digital dan pemanfaatan AI di dunia pendidikan dapat berjalan seiring dengan pelindungan anak, kesehatan jiwa, serta penguatan peran keluarga di era digital.