Kemenko PMK Dorong Penguatan Budaya Tangguh Bencana Melalui Kolaborasi dengan PT Taman Wisata Candi

KEMENKO PMK – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melaksanakan pertemuan pembahasan rencana kerja sama penguatan budaya tangguh bencana bersama PT Taman Wisata Candi (TWC) pada Kamis (26/2/2026) di Kantor Pusat BUMN PT Taman Wisata Candi di Kawasan Candi Prambanan. 

Memimpin jalannya pertemuan, Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana, Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko bencana melalui pendekatan pembangunan manusia dan kebudayaan. 

Dalam kesempatan tersebut, Andre menyampaikan bahwa upaya pengurangan risiko bencana membutuhkan multipihak antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas budaya, media, dan masyarakat.

“Upaya pengurangan risiko bencana memerlukan kolaborasi seluruh pihak agar kesiapsiagaan masyarakat dapat terus diperkuat dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujar Andre.

Sebagai negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi, peningkatan pemahaman masyarakat melalui edukasi kebencanaan, pelatihan mitigasi, serta pembentukan agen mitigator di tingkat komunitas menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan masyarakat. 

“Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pihak terdampak ketika bencana terjadi, tetapi mampu memahami risiko serta bertindak cepat untuk melindungi diri dan lingkungannya,” lanjut Andre.

Kemenko PMK bersama PT Taman Wisata Candi turut membahas rencana rangkaian kegiatan menuju puncak peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006, yang mencakup pendidikan dan pelatihan fasilitator kebencanaan, forum diskusi bersama perguruan tinggi, penguatan jejaring mitigator masyarakat, serta penyelenggaraan Gelar Budaya Tangguh Bencana. Kegiatan ini juga mengintegrasikan pelestarian kawasan cagar budaya dengan upaya mitigasi bencana mengingat tingginya aktivitas wisata dan nilai strategis kawasan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain itu, konsep kegiatan turut mendorong keterlibatan penyintas bencana melalui penyelenggaraan pasar penyintas sebagai ruang pemberdayaan ekonomi sekaligus penguatan memori kolektif masyarakat terhadap pengalaman kebencanaan.

“Momentum 20 tahun Gempa Yogyakarta menjadi refleksi bersama untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat agar kesadaran terhadap risiko bencana terus terbangun,” tambah Andre.

Kemenko PMK menegaskan bahwa kolaborasi multipihak merupakan kunci dalam membangun budaya tangguh bencana secara berkelanjutan. Melalui koordinasi yang solid antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, diharapkan kesiapsiagaan nasional terhadap bencana semakin meningkat serta mendukung terwujudnya masyarakat Indonesia yang tangguh dan berdaya.

Kontributor Foto:
Reporter: