KEMENKO PMK – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melakukan penanaman pohon dalam rangkaian Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta di Kampus ISI Yogyakarta, Jumat. (8/5).
Penanaman bibit pohon srikaya dan almon dilakukan secara simbolis sebagai bentuk penghormatan terhadap Kampus ISI Yogyakarta yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak saat Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006.
Kegiatan tersebut dihadiri Guru Besar Sosiologi Bencana Universitas Pertahanan Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si., Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo, serta jajaran pimpinan ISI Yogyakarta.
Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo menyampaikan bahwa kegiatan penanaman pohon diharapkan dapat menjaga memori kolektif sivitas akademika dan masyarakat terhadap risiko bencana di wilayah Yogyakarta.
“Penanaman pohon secara simbolis merupakan bentuk penghormatan terhadap Kampus ISI yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak saat Gempa Jogja. Diharapkan penanaman ini dapat menjaga memori kolektif sivitas akademika dan masyarakat terhadap risiko bencana yang ada,” ujar Andre.
Ia menjelaskan bahwa bibit pohon srikaya dan almon yang ditanam merupakan hasil budidaya sivitas akademika ISI Yogyakarta dan memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis bagi masyarakat.
“Bibit pohon srikaya dan almon ini merupakan hasil budidaya sivitas akademika ISI Yogyakarta dan memiliki nilai ekologi serta ekonomi yang tinggi. Harapannya dapat terus dikembangkan di lingkungan kampus maupun masyarakat sekitar,” katanya.
Menurut Andre, penanaman pohon juga menjadi bagian penting dalam upaya pengurangan risiko bencana karena berfungsi memperkuat lapisan tanah, menjaga sumber daya air, dan memperkuat ketahanan ekosistem.
“Pohon merupakan simbol ketangguhan ekosistem alam di suatu kawasan sekaligus simbol ketangguhan bencana,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pesan utama dalam Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta adalah membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya pengurangan risiko bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.
“Pengurangan risiko bencana merupakan kunci untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana,” kata Andre.