KEMENKO PMK — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyelenggarakan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan Keagamaan bagi Peserta Magang Batch II dan Batch III di Ruang Rapat Lantai 14 pada Senin (26/1/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah dalam memperkuat pemahaman kebangsaan, moderasi beragama, serta ketahanan ideologi generasi muda.
Kepala Biro Manajemen Kinerja, Kerja Sama, dan SDM (MKKSDM) Kemenko PMK Nur Budi Handayani, dalam sambutannya menegaskan pentingnya pembekalan wawasan kebangsaan dan keagamaan sejak dini. Menurutnya, generasi muda saat ini dihadapkan pada tantangan kompleks di era digital, terutama derasnya arus informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.
“Pembekalan wawasan kebangsaan dan keagamaan menjadi sangat penting agar generasi muda mampu menyaring informasi, memahami keberagaman secara utuh, serta tidak mudah terpengaruh oleh paham radikalisme dan ekstremisme,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemahaman yang komprehensif terhadap Pancasila, nilai agama, dan kebhinekaan merupakan bekal utama bagi peserta magang agar kelak mampu berkontribusi secara positif sebagai aparatur negara yang berintegritas dan berkomitmen terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan ini menghadirkan Irjen. Pol. R. Ahmad Nurwakhid, sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia membagikan pengalaman internasionalnya sebagai konsultan antiterorisme dan menyoroti keunikan Indonesia yang mampu menjaga stabilitas di tengah keberagaman.
“Kekuatan utama bangsa Indonesia terletak pada Pancasila sebagai ideologi moderat, nilai-nilai agama yang rahmatan lil ‘alamin, serta kearifan lokal seperti silaturahmi dan gotong royong,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa tingginya spiritualitas dan kepedulian sosial masyarakat Indonesia menjadi benteng penting dalam mencegah konflik sosial. Hal ini tercermin dari berbagai indeks global yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu bangsa paling dermawan di dunia.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa radikalisme dan ekstremisme kerap muncul akibat pemahaman agama yang tidak utuh serta adanya dikotomi antara nilai kebangsaan dan keagamaan. Menurutnya, Pancasila justru selaras dengan nilai-nilai universal agama dan menjadi wadah bersama bagi seluruh umat beragama di Indonesia.
“Ekstremisme dibangun melalui manipulasi dan distorsi ajaran agama serta politisasi agama untuk kepentingan kekuasaan. Karena itu, penguatan moderasi beragama dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama ketahanan nasional,” tegasnya.
Kegiatan sosialisasi ditutup dengan komitmen bersama peserta magang untuk menjaga persatuan, menanamkan nilai moderasi beragama, serta menolak segala bentuk radikalisme dan ekstremisme. Melalui kegiatan ini, Kemenko PMK berharap peserta magang dapat tumbuh menjadi generasi muda yang berwawasan kebangsaan kuat, beragama secara moderat, dan siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara.