Pendidikan Harus Siapkan SDM Unggul dan Tangguh Hadapi Disrupsi Digital dan Perubahan Iklim

Menko PMK: Kepala Dinas Pendidikan Harus Jadi Orkestrator SDM Unggul dan Tangguh

KEMENKO PMK -- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mencetak generasi yang cerdas, tetapi harus mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, sehat, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada kegiatan Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua, di Pusat Pelatihan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Senin (9/12/2026).

Menko PMK menyampaikan bahwa pembangunan SDM unggul merupakan prioritas utama Presiden yang menjadi fokus koordinasi Kemenko PMK lintas kementerian dan lembaga. Lingkup pembangunan SDM tersebut mencakup pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, kesehatan, keagamaan, keluarga, perempuan dan anak, kepemudaan dan olahraga, kependudukan, hingga kebencanaan.

"Pendidikan adalah bagian penting dari pembangunan SDM unggul. Tapi membangun SDM unggul dan tangguh bukan hanya urusan Kemendikdasmen atau Kemendikti. Peran keluarga, masyarakat menjadi sangat penting," ujar Menko PMK.

Ia menekankan bahwa capaian akademik dan kecerdasan intelektual tidak akan bermakna tanpa didukung kondisi kesehatan fisik, mental, dan sosial yang baik.
"Saya sering mengatakan IP bisa 4, tapi kalau sakit IP Anda dikali nol. Sama saja kalau anak nilainya 10, tapi sering sakit fisik, mental, atau sosial, maka nilainya juga nol," tegasnya.

Karena itu, Menko PMK mendorong para Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, dan Guru untuk berkontribusi secara serius dalam membangun pendidikan yang menyeluruh. Pendidikan, menurutnya, tidak boleh semata berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga pada pembentukan SDM yang sehat, unggul, dan tangguh.

Sejalan dengan itu, Menko PMK menegaskan pentingnya sekolah untuk melakukan pembiasaan hidup sehat. Komitmen tersebut tercermin melalui implementasi cek kesehatan gratis di sekolah, penguatan budaya kebersihan, serta penyediaan fasilitas dasar seperti wastafel untuk menanamkan kebiasaan mencuci tangan sejak dini. Hal ini juga tercermin dalam program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yakni  bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

"Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Sekolah, dan Guru mohon juga untuk ikut berkontribusi bahkan memikirkan secara serius bahwa kita bukan hanya mencetak orang pintar. Sehat juga menjadi  pilar yang penting sekali dan utama," ungkapnya.

Menko PMK juga menyoroti persoalan kesehatan mental anak yang semakin mengkhawatirkan di tengah laju urbanisasi dan digitalisasi. Ia menilai, persoalan ini tidak bisa ditangani oleh sekolah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat.

"Kadisdik mohon ajak masyarakat, mengajak orang tua menjadi bagian penting dari pendidikan. Kalau kita lihat waktu anak di rumah dan di masyarakat lebih besar daripada waktu di sekolah. Bapak ibu kepala dinas menjadi orkestrator untuk memperkuat masyarakat dan keluarga sebagai bagian dari pendidikan," ucapnya.

Dalam konteks tantangan ke depan, Menko PMK menegaskan bahwa pembangunan SDM unggul di ranah pendidikan saat ini menghadapi dua disrupsi besar, yakni disrupsi digital dan kecerdasan artifisial (AI), serta disrupsi perubahan iklim. Terkait disrupsi digital, Kemenko PMK telah menerbitkan panduan Bijak dan Cerdas Ber-AI serta menyiapkan peluncuran platform pembelajaran daring Massive Open Online Course (MOOC) bagi siswa, guru, dan orang tua.

"Penggunaan AI itu tidak terhindarkan. Manusia yang dibantu AI akan sulit dikalahkan oleh manusia tanpa AI. Tapi kalau tidak bijak dan cerdas, risikonya besar,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan tingginya screen time anak yang telah mencapai sekitar sembilan jam per hari. Menurutnya, pendidikan perlu mendorong pergeseran dari _screen time_ ke green time, dari sekadar melihat layar menuju interaksi dengan realitas kehidupan.

Disrupsi kedua adalah perubahan iklim. Menko PMK menegaskan bahwa perubahan iklim adalah nyata, ditandai dengan meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai daerah. Ia mengajak sekolah menjadikan lingkungan sebagai ruang belajar, termasuk melalui kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dan mengurangi food waste.

"Membiasakan anak-anak tidak menyia-nyiakan makanan adalah bagian dari melawan perubahan iklim. Ini masalah serius karena _food waste_ dan _food loss_ bisa memboroskan hingga 30 persen stok pangan," ujarnya.

Menutup sambutannya, Menko PMK mengajak seluruh kepala dinas pendidikan dan kepala sekolah untuk berperan sebagai orkestrator pembangunan SDM unggul dengan melibatkan seluruh elemen, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga pemerintah daerah.

"SDM unggul dan tangguh bukan hanya membangun manusia cerdas. Tetapi unggul, sehat fisik, sehat mental, sehat sosial, mampu menghadapi disrupsi digital yang membawa risiko, mampu menghadapi disrupsi perubahan iklim yang membawa risiko," pungkasnya.

 

Kontributor Foto:
Reporter: