Kemenko PMK Dorong Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Tingkatkan Ketangguhan Masyarakat

KEMENKO PMK -- Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Andre Notohamijoyo menegaskan pentingnya penguatan tata kelola pengurangan risiko bencana guna meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana dan krisis iklim.

Hal tersebut disampaikan Andre saat menghadiri Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan ke-9 (PIT ke-9) Tahun 2026 yang diselenggarakan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di Kota Yogyakarta, pada Selasa (6/5/2026).

Andre menyampaikan bahwa forum ilmiah tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor sekaligus mendorong kebijakan penanggulangan bencana yang berbasis riset, inovasi, dan penguatan kapasitas masyarakat.

"Penguatan tata kelola risiko bencana menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang tangguh dan adaptif terhadap berbagai ancaman bencana maupun dampak krisis iklim. Karena itu, kolaborasi lintas sektor dan penguatan riset kebencanaan harus terus diperkuat," ujarnya.

Menurut Andre, IABI memiliki peran penting sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan dan rekomendasi kebijakan berbasis kajian ilmiah yang dapat mendukung penguatan sistem penanggulangan bencana nasional.

"Apresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh pihak, baik pakar, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat, maupun sektor swasta atas kontribusi dalam penanggulangan bencana," ujarnya.

Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan ke-9 Tahun 2026 Mengusung tema "Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan", kegiatan tersebut membahas berbagai isu strategis kebencanaan, termasuk penguatan tata kelola, integrasi pengurangan risiko bencana dalam pembangunan, serta peningkatan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim.

Pertemuan dibuka oleh Ketua Umum IABI Prof. Harkunti P. Rahayu yang menekankan bahwa risiko bencana tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga kebijakan pembangunan, tata kelola wilayah, dan kapasitas masyarakat dalam beradaptasi.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti sekitar 500 peserta dari unsur pemerintah, akademisi, praktisi, dunia usaha, relawan kebencanaan, dan organisasi masyarakat. Rangkaian kegiatan meliputi _knowledge sharing_, refleksi 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006, pelatihan peta risiko bencana, _call for papers_, pameran kebencanaan, hingga Forum Pengurangan Risiko Bencana Nasional.

Momentum peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta juga menjadi refleksi penting atas lahirnya praktik _"Build Back Better"_ dan semangat gotong royong masyarakat yang hingga kini menjadi salah satu rujukan dalam penanganan bencana di tingkat global.

Andre menyatakan, penguatan budaya riset, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ketangguhan jangka panjang. "Forum ini diharapkan mampu menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat sinergi menuju Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan," pungkasnya.

Kontributor Foto:
Reporter: