Kemenko PMK dan Astra International Perkuat Ketangguhan Dunia Usaha melalui Indonesia Rescue Summit 2026

KEMENKO PMK – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama PT Astra International Tbk. menyelenggarakan Indonesia Rescue Summit-Private Sector Resilience Movement (IRS–PSRM) Tahun 2026. Sinergi ini dibangun sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan dan kapasitas dunia usaha dalam merespons ancaman bencana.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan sekaligus pembukaan IRS–PSRM 2026 pada Selasa (15/9/2026) di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta. Forum ini menjadi ruang strategis bagi dunia usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis operasional sekaligus memperkuat kolaborasi pentahelix dalam ekosistem penanggulangan bencana nasional.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK Lilik Kurniawan menegaskan bahwa penanggulangan bencana di Tanah Air tidak dapat bertumpu pada pemerintah semata. Keterlibatan sektor swasta dinilai sangat esensial.

“Kita ingin membangun paradigma bahwa sektor swasta bukan hanya objek yang harus dilindungi ketika bencana terjadi, tetapi juga subjek dan mitra strategis dalam membangun ketangguhan bangsa,” ujar Lilik.

Lebih lanjut, Lilik menguraikan bahwa dunia usaha sejatinya memiliki sumber daya, teknologi, jaringan, tenaga ahli, hingga infrastruktur dengan daya mobilisasi yang masif. Apabila seluruh potensi tersebut terintegrasi dengan sistem penanggulangan bencana pemerintah, kapasitas respons nasional dipastikan akan melesat secara signifikan.

Kesiapsiagaan lintas sektor ini menjadi kian mendesak di tengah dinamika ancaman alam yang terus berkembang. Saat ini, sejumlah wilayah di Indonesia tengah dihadapkan pada ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada saat yang bersamaan, rentetan aktivitas vulkanik, seperti erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September, juga membutuhkan perhatian serius. Kondisi multiancaman ini menuntut respons yang terkoordinasi secara cepat dan presisi.

Dalam konteks tersebut, keberadaan Emergency Response Team (ERT) di setiap perusahaan memegang peranan krusial. Tim ini tidak hanya dituntut menguasai kecakapan teknis, tetapi juga harus mampu berinteroperabilitas dengan unsur pemerintah maupun komponen relawan lainnya di lapangan.

“Ketika terjadi keadaan darurat, kita tidak boleh bekerja dalam sekat-sekat institusi. Yang kita perlukan adalah satu sistem, satu koordinasi, dan satu tujuan: menyelamatkan jiwa dan mengurangi dampak bencana,” tegas Lilik.

Sebagai informasi, IRS–PSRM 2026 merupakan keberlanjutan dari komitmen tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan ini berlangsung mulai 15 September hingga 29 Oktober 2026 di Bumi Perkemahan Cibubur serta sejumlah lokasi pendukung, seperti Pusdiklat Gulkarmat Ciracas dan PT Astra International AMDI Sunter. Edisi tahun ini diikuti oleh 119 tim dari 29 perusahaan.

Dalam ajang ini, para peserta akan diuji melalui tujuh kategori kompetisi kedaruratan, meliputi Vehicle Accident Rescue (VAR), Manajemen dan Distribusi Logistik, Emergency Medical Treatment (EMT), Water Rescue, Pendirian Tenda, Fire Fighting, dan Fitness Drill. Rangkaian uji tangkas ini dirancang secara komprehensif, mulai dari simulasi penyelamatan korban, penanganan medis, pengelolaan logistik, hingga ketahanan fisik personel.

Lilik berpesan agar momentum ini tidak sekadar dimaknai sebagai ajang perlombaan, melainkan menjadi ruang pembelajaran dan replikasi praktik baik untuk diimplementasikan di perusahaan masing-masing.

“Jangan berhenti sebatas pada menjuarai kompetisi. Yang paling esensial adalah peningkatan kapasitas nyata ketika bencana benar-benar terjadi di lapangan,” tuturnya.

Penguatan kapasitas tersebut diarahkan agar menjadi bagian tak terpisahkan dari tata kelola keberlanjutan (sustainability) perusahaan. Investasi dalam kesiapsiagaan bencana tidak lagi dipandang semata untuk melindungi aset fisik, melainkan untuk menjaga nyawa manusia, mempertahankan produktivitas, serta menopang ketahanan ekonomi nasional.

Ke depan, kolaborasi pemerintah dan dunia usaha ini akan difokuskan pada pengintegrasian Emergency Response Plan serta Business Continuity Management milik korporasi ke dalam sistem penanggulangan bencana pemerintah. Melalui langkah konkret ini, budaya sadar risiko diharapkan sungguh-sungguh mendarah daging pada seluruh lapisan masyarakat dan tata kelola kelembagaan.

Kontributor Foto:
Reporter: