Oleh humasnew on September 05, 2018

Jakarta (05/09) - Indonesia termasuk salah satu negara yang rentan terpapar risiko penyakit infeksi baru di Asia. Baik penyakit infeksi baru maupun penyakit yang pernah ada dan kemudian muncul kembali, sekitar 70% di antaranya bersumber dari satwa liar dan ternak, seperti misalnya flu burung (zoonosis). Selain flu burung, kemunculan kembali Ebola di Afrika Barat dan HPAI H7N (Avian Influenza) di China dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah Coronavirus (MERSCov) di Timur Tengah, serta deteksi virus Nipah, West Nile dan Zika di Indonesia, menekankan pentingnya meningkatkan dan merespon ancaman kesehatan hewan, baik yang baru dan yang muncul kembali, mauoun spill over secara terus menerus dan berlanjut.

Dengan semakin bertumbuhnya penduduk, globalisasi dan degradasi lingkungan yang sangat cepat, ancaman terhadap kesehatan telah menjadi semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu sektor saja, tetapi harus dihadapi bersama-sama.

Melalui Program Emerging Pandemic Threats (EPT2), Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bekerjasama dengan kementerian/lembaga terkait, sektor swasta, NGO serta pemangku kepentingan lainnya untuk bersama-sama mencegah, mendeteksi dan merespon penyakit baru yang berpotensi pandemi. Kemenko PMK hari ini bersama dengan USAID menyelenggarakan pertemuan tahunan koordinasi dan penyusunan rencana kerja pencegahan dan penanggulangan penyakit berpotensi pandemi, yang bertempat di Ruang Heritage Kemenko PMK.

“Fungsi koordinasi ada di Kemenko PMK dan kami tetap mengkoordinir berbagai pihak dan sektor yang terkait dan intinya adalah koordinasi itulah yang paling diperlukan. Secara sektoral kita sudah kuat. Oleh karena itu, kita ada satu program yang dinamakan SIZE (Sistem Informasi, Zoonosis dan Penyakit dan Emerging Infectious Disease). Kita punya sistem alertini, dan ketika terjadi masalah di lapangan, baik itu pada binatang, sebelum sampai ke manusia, kita sudah punya sistem informasinya, sehingga kita bisa bergerak cepat ke lapangan dan ke depan, sistem ini akan kita tingkatkan”, ujar Deputi Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Kemenko PMK, Sigit Priohutomo. Sigit juga mengatakan, turunnya jumlah pandemik terjadi berkat kerja bersama antara Pemerintah, sektor swasta, NGO, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Ke depan, Sigit berharap koordinasi dan komitmen seluruh pemangku kepentingan semakin ditingkatkan menjadi lebih baik. (olv)

Categories: