Oleh humasnew on April 09, 2018

Jakarta (09/04) --- Kementerian dan Lembaga (K/L) perlu lebih memahami tugas pokok dan fungsinya mengenai program stunting secara lebih spesifik. Penanganan stunting membutuhkan kerjasama antar K/L tersebut. 

Dalam Rapat Eselon I Persiapan Launching Penanganan Stunting Terintegrasi di Kemenko PMK, Jakarta, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, Sigit Priohutomo mengatakan perlunya upaya Kementerian dan Lembaga (K/L) untuk memahami tugas pokok dan fungsinya mengenai program stunting secara lebih spesifik. 

Sigit menjelaskan, kegiatan penanganan stunting  akan dilaksanakan di 100 Kabupaten prioritas. Menurutnya, penanganan stunting terbagi menjadi dua yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Kedua hal ini membutuhkan peran dan kerjasama Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam bentuk edukasi dan konseling gizi, makanan tambahan, suplemen, imunisasi, infrastruktur air bersih, akses air minum yang aman, infrastruktur sanitasi dan bantuan keluarga miskin.

Adapun program penanggulangan stunting dimulai dengan penajaman program sektoral Pemerintah yang sejak perencanaannya telah menetapkan lokus penanggulangan stunting serta membangun partisipasi masyarakat dengan sosialisasi dan edukasi pola hidup sehat bagi setiap individu, keluarga dan masyarakat.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo, telah meminta untuk segera melaunching “isi piringku”. Isi piringku merupakan edukasi tentang asupan makanan untuk bayi yang mengandung makanan seimbang. Deputi bidang kajian dan pengelolaan isu-isu ekonomi strategis, Kantor Staf Presiden,  Denni Puspa Purbasari, mengungkapkan sesuai arahan Presiden agar K/L mensinergikan program-program di desa prioritas serta melaunching kampanye cegah stunting dibulan ini. 

Presiden, sebutnya, mengintruksikan pula Pemerintah Daerah harus bekerjasama dengan Pemerintah Pusat dan tidak lepas tangan terhadap tanggung jawabnya. Diharapkan Presiden pula, agar nantinya jangan hanya diberikan biskuit tambahan, tetapi berikan juga makanan lain yang mudah diakses untuk sumber pangan lokal. “Stunting tidak bisa diobati tetapi dapat dicegah, oleh sebab itu diharapkan agar K/L dapat bekerjasama dan bertanggungjawab dalam peran sertanya menangani stunting  ini,” ujar Denni. 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi lahir dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, atau dalam 1000 hari pertama kehidupan tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia dua tahun. Hadir dalam rapat, perwakilan dari KSP, Kemendes, Kemdagri, Bapennas serta beberapa K/L lainnya. Ris

 

Categories: