Oleh humas on February 10, 2020

Foto : 

  • Dwi Prasetya

Jakarta (10/2) -- November 2019 lalu, umat Islam di Indonesia khususnya Keluarga Besar Pimpinan Pusat Muhammadiyah kehilangan sosok intelektual yang mumpuni dalam ilmu perpolitikan islam. Sosok itu adalah  Bahtiar Effendy, Ketua PP Muhammadiyah yang wafat pada Kamis (22/11) pukul 00.00 WIB .

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus penghargaan atas dedikasi dan sumbangsih pemikiran yang telah almarhum berikan semasa hidup, PP Mummadiyah merilis sebuah buku bertajuk Mengenang Sang Guru Politik Prof. Dr. Bahtiar Effendy, MA.

Sejumlah kerabat dekat termasuk para pejabat pemerintah hadir saat peluncuran buku di Auditorium KH Ahmad Dahlan Pusat Dakwah Muhammadiyah di Jakarta, Senin (10/2). Salah satunya yaitu Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.

Muhadjir mengaku begitu kenal dekat dengan sosok Alm. Bachtiar Effendy. Tidak sekadar rekan dan saudara di PP Muhammadiyah, tetapi baginya, almarhum merupakan konsultan politik pribadi yang senantiasa bisa diajak berdiskusi dan didengar masukannya.

"Beliau adalah konsultan politik saya. Jadi kalau ada sesuatu yang sangat kritis, saya mesti diskusi dengan beliau. Bisa dengan telepon, dengan saya datangi," ucapnya seraya memberikan testimoni tentang sosok Alm. Bahtiar Effendy.

Muhadjir melanjutkan bahwa saran dari almarhum sangat penting, termasuk yang berkaitan erat dengan tanggung jawab menjalankan amanat sebagai Menko PMK. "Menjelang kabinet, saya masih telepon beliau untuk meminta saran. Bagaimana pun dia melihat masa depan lebih terang daripada saya," ungkapnya.

Di samping itu, ia pun menilai sosok Alm. Bahtiar Effendy sebagai orang yang betul-betul mengedepankan supremasi intelektualnya, memiliki pikiran yang jernih, tidak banyak pretensi, selalu menyampaikan segala sesuatu apa adanya dan terus terang.

"Saya kira itu adalah sebuah perjalanan dan ongkos yang tidak murah untuk seorang intelektual seperti Pak Bachtiar. Di saat di mana godaan-godaan terhadap reputasi intelektual di Indonesia ini sangat ganas, saya kira beliau bisa berdiri tegak dengan supremasi intelektualnya dan beliau sangat bangga dengan identitas beliau sebagai intelektual itu. Di antara kita mungkin tidak banyak yang bangga dengan supremasi intelektual seperti Pak Bachtiar," pungkas Muhadjir.

Senada, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyebut jejak langkah dan pemikiran Alm. Bahtiar Effendy sangat laik untuk diperhitungkan. Terutama mengenai hubungan antara islam dan duni politik di Tanah Air.

"Kita tentu sangat kehilangan beliau, apalagi kami di PP Muhammadiyah. Beliau ketua yang membidangi hubungan luar negeri. Pemikiran dan masukannya dalam menyikapi situasi politik sangat berpengaruh," tandasnya.

Kategori: 

Reporter: 

  • Puput Mutiara