Oleh humas on January 05, 2018

Jakarta (05/01) Peringatan status darurat narkoba semestinya dicamkan oleh semua pemangku kepentingan. Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Dr. Sujatmiko menyayangkan bahwa  kasus pemakaian narkoba terus saja terjadi dan menyeret sejumlah kalangan nama artis dan pesohor. ‘’Mereka umumnya punya penggemar. Sedikit atau banyak perilaku mereka punya pengaruh terhadap fans mereka." ucap Dr. Sujatmiko di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Jumat Siang (04/01).

Menurut Sujatmiko, publik figur yang kehidupannya seringkali disorot media mestinya bisa menjadi teladan dan menginspirasi untuk melakukan perbuatan yang positif. Apakah itu atlet, artis, politisi, atau pejabat yang gaya hidupnya diikuti oleh para fans atau penggemar maka harus memberikan contoh yang baik. ‘’Setidaknya janganlah memberi contoh buruk seperti pemakaian narkoba,’’ Kata Sujatmiko.

Namun, sekadar  mengharap para artis dan pesohor menjauhi narkoba tentu tidak cukup. Sujatmiko mengharapkan rumah-rumah produksi, manajemen artis dan stasiun televisi yang menjadi media penyiaran para pesohor itu menjadi pemangku kepentingan yang aktif. ‘’Mestinya, keterangan medis bebas narkoba menjadi syarat bagi para artis dalam proses casting, sebelum produksi dimulai,’’ ujarnya. 

Selama proses produksi berjalan, manajemen artis maupun rumah produksi diharapkan harus pula bisa memastikan tak ada pengedar narkoba gentayangan di sekitar artisnya. ‘’Jangan sampai, kelelahan karena produksi kejar tayang menjadi alasan artis mengkonsumsi narkoba. Kalau lelah, letih ya ke dokter saja,’’ ujar Sujatmiko. Lagi pula, kalau ada artis yang tertangkap polisi karena narkoba, proses produksi bisa berantakan. 

Lebih dari itu, yang dikuatirkan Sujatmiko ialah adanya pengaruh buruk terhadap fans. Artis menenggak narkoba, sebagian fans mungkin jadi mencoba-coba dan akhirnya penyalahgunaan narkoba makin meluas. ‘’Ini harus dicagah. Bayangkan, kalau satu orang saja dalam keluarga menggunakan narkoba, itu pasti merenggut kebahagaiaan keluarga tersebut, kehidupan ekonomi keluarga juga bisa ambruk. Sementara si pecandu akan kehilangan waktu-waktu produktifnya," jelas Sujatmiko. 

Pada sisi lain, kondisi bebas narkoba juga bisa memberikan efek bisnis yang positif. ‘’Kita bisa membayangkan, kalau dalam proses produksi sebuah film, sinetron, FTV atau apalah, kemudian rumah produksi yang menggarapnya bisa mengumunkan bahwa tidak satu pun kru dan artisnya terlibat narkotik, itu kan bisa menjadi bahan promosi yang bagus,’’ Sujatmiko menambahkan.