Oleh humas on October 02, 2018

Jakarta (02/10)--- Penyakit tropis yang Terabaikan - termasuk Filariasis Limpatik, Kusta, Frambusia, dan Schistosomiasis - masih merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia dan sebagian besar negara di kawasan Asia Tenggara. Maka, memang diperlukan upaya yang keras dan kerjasama dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara juga dalam upaya mencegah dan mengendalikan, hingga mencapai eliminasi atau bahkan pemberantasan bagi penyakit tropis ini. 

Namun demikian, khusus untuk penyakit Kusta, penyakit ini telah masuk dalam daftar prioritas program kesehatan Indonesia, sumber daya - termasuk dana - selalu dialokasikan setiap tahunnya sehingga terminologi “Penyakit Tropis Terabaikan” untuk penyakit ini sebenarnya tidak tepat karena penyakit ini sesungguhnya tidak pernah diabaikan di wilayah Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan tujuan untuk mencapai eliminasi Kusta pada tahun 2019. Tujuan ini telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden untuk memastikan dukungan dan komitmen semua pihak (K/L), Pemerintah Propinsi, Kabupaten/Kota, Masyarakat. Demikian pengantar Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Kemenko PMK, saat melakukan audiensi dengan Tokoh Peduli Kusta yang juga Pengurus Japan Foundation, Mr. Sasakawa; Jajaran Japan Foundation; Kemenkes; dan sebagainya tentang upaya eliminasi kusta, Selasa pagi di Kantor Kemenko PMK, Jakarta.

Baik Sigit maupun Sasakawa dalam diskusi ini sepakat bahwa upaya eliminasi kusta perlu kampanye, informasi, dan edukasi masyarakat yang baik. “Memerangi kusta harus juga memerangi stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap penderita kusta,” tambah Sigit. “Kusta sebenarnya dapat ditangani dan tidak menunggu parah jika sudah sedini mungkin dapat dideteksi. Kusta akan jadi masalah besar jika sudah terlambat dideteksi. Ini yang biasanya terjadi.” Menurut Sigit, tantangan Indonesia mengeliminasi kusta antara lain Sebagian besar daerah kantung kusta berada di lokasi yang sulit dijangkau (terpencil); Sebagian besar wilayah kantong kusta kurang mendapat dukungan lintas program dan sektor; dan Masih adanya self stigma pada penderita dan stigma masyarakat terhadap penderita kusta. 

Sasakawa, yang telah 40 tahun bergelut dalam upaya eliminasi Kusta, melalui Japan Foundation di tahun 2018 ini mengajak Indonesia untuk bekerja sama memerangi Kusta. Selain Indonesia, Japan Foundation juga mengajak India. Sasakawa diketahui telah berkunjung ke berbagai wilayah kantung kusta di seluruh dunia dan kerap menggelar pengobatan gratis kusta. Di Indonesia, Japan Foundation melibatkan Yayasan Permata yang giat merangkul para penderita dan mereka yang sudah sembuh kusta terutama untuk memulihkan kondisi psikologi penderita kusta yang kerap mendapat stigma buruk. 

Penyakit kusta di Indonesia, berdasarkan data Kemenkes, masih banyak terjadi di wilayah timur Indonesia. Seiring makin mudahnya akses terhadap layanan kesehatan yang memudahkan deteksi dini, maka kasus terjadinya kusta makin dapat ditekan. Target Kemenkes dalam eliminasi kusta antara lain Peningkatan advokasi & sosialisasi program Kasus Kusta dan Frambusia di Kab/Kota; Intensifikasi Penemuan Kasus aktif berbasis keluarga dan masyarakat; Peningkatan jejaring layanan/integrasi & kolaborasi kegiatan lintas program (Kusta-PIS PK); Memperluas daerah implementasi kegiatan inovasi pengobatan pencegahan massal (kemoprofilaksis); Bersama mitra internasional (WHO, NLR) mengembangkan pilot strategi inovasi: Desa Sahabat Kusta+kemoprofilaksis, e-learning (skin apps, web-inar); dan Mengupayakan agar Kusta tetap menjadi agenda prioritas nasional pada periode RPJMN berikutnya (untuk mencapai target SDGs 2030) (*)

Categories: