Oleh humas on September 24, 2018

Jakarta (24/9-- Pemerintah bekerjasama dengan Non Government Organization (NGO) guna membangun kembali Nusa Tenggara Barat (NTB) pasca gempa yang terjadi. Kerjasama pemerintah dan NGO akan meliputi berbagai sektor layanan dasar mulai dari pendidikan, ekonomi, kesehatan, tempat tinggal dan berbagai hal lainnya. 

Plt. Deputi Bidang Koordinasi Dampak Bencana dan Kerawanan Sosial, Kemenko PMK, Sonny Harry B Harmadi menyampaikan bahwa anggaran Pemerintah yang terbatas. Adanya dukungan NGO sangat penting dalam percepatan pembangunan NTB. Pemerintah berharap pembangunan NTB bisa terkoordinir dengan baik.

 “Anggaran pemerintah terbatas, jadi dukungan NGO sangat penting. Kita semua mendukung dalam rangka yang sama, jadi jangan sendiri-sendiri, terkoordinir yang baik dengan target sampai akhir desember 2018 fungsi layanan dasar sudah berjalan normal”, tutur Sonny saat memimpin rapat koordinator (rakor) Dukungan NGO Dalam Peningkatan Pelayanan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Bagi Korban Bencana Gempa Bumi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di  Hotel Harris Vertu, Jakarta.

Mendekati musim hujan, tambahnya,  pemerintah mengharapkan hunian sementara (huntara) segera terwujud untuk para pengungsi. Kerjasama dengan NGO merupakan salah satu cara mempercepat pembangunan huntara bagi para pengungsi gempa bumi di NTB. “Kemarin saya melihat hujan mulai membanjiri pengungsian, air meluap menggenangi pengungsian. Itulah kelemahan dari tenda. Jadi kita sangat butuh huntara ini dari NGO untuk membantu para korban bencana,”ujar Sonny.
Lebih lanjut Sonny menyatakan sesuai instruksi dari Presiden RI, pembangunan huntara harus memenuhi standart rumah tahan gempa.

 “Arahan bapak Presiden RI sangat jelas, pokoknya semua bangunan di NTB harus memenuhi standart tahan gempa,” jelasnya.

Rakor kali ini dihadiri oleh Kepala Dinas Sosial NTB, Ahsanul Halik, perwakilan dari Badan Nasional Penanganan Bencana, Kementerian PUPR, Laznas Al-Azhar, Forum Zakat, Rumah Zakat, dan dari kementerian atau lembaga lainnya yang terkait.