Oleh humas2 on June 02, 2017

Jeju (02/06) – Setelah Mantan Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri, menawarkan Pancasila di Jeju Forum for Peace and Prosperity 2017 di Jeju, Korea Selatan, hari ini giliran Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, memaparkan kesaktian Pancasila di tengah peradaban modern dunia di forum yang sama. Di forum itu, Menko PMK, menyampaikan Keynote Speech di depan para pemuda, menteri, pengamat, UNESCO, penggiat sosial dan aktivitas pemuda dari 40 negara dalam forum bertema, “Peran Pemuda dan Kebudayaan dalam Membentuk Masa Depan yang Damai dan Berkelanjutan.” Menurut Menko PMK, pemuda menjadi kunci dalam perkembangan jaman yang begitu cepat.

Diterangkannya, saat ini peradaban dunia telah mengalami berbagai gelombang Revolusi. Mulai dari abad kuno, abad pertengahan, abad modern, revolusi ilmiah, revolusi industri, dan saat ini telah berlangsung revolusi dibidang teknologi yang sering disebut Triple-T Revolution (Transportation, Telecommunication, and Tourism).Dunia, sebutnya, membutuhkan energy dinamis dari pemuda yang diharapkan dapat menjadi gelombang perubahan dunia yang lebih baik. “Sudah saatnya bagi pemuda, generasi baru dunia, untuk menyalurkan energinya untuk melakukan revolusi peradaban baru, yang mencari hidup baru yang lebih layak daripada yang sebelumnya, revolusi untuk menempatkan martabat manusia sebagai tujuan, revolusi "Dignity of Man",revolusi peradaban yang bermartabat seperti yang digagas oleh Founding Father Indonesia, Bung Karno pada tahun 1960,” ujarnya.

Energi pemuda untuk membangun peradaban dunia yang maju dan bermartabat, jelasnya, dapat dilandasi dengan prinsip-prinsip yang terdapat didalam Pancasila. Prinsip-prinsip itu memiliki nilai-nilai universal yang dapat digunakan secara internasional termasuk didalam membangun perdamaian dunia. Panca berarti lima, Sila berarti prinsip-prinsip dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Jadi, Pancasila adalah Lima prinsip dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. “Inti sari dari Lima prinsip itu, dalam bahasa Indonesia disebut Gotong-royong atau padanan dalam bahasa inggris yang mendekati adalah Colaboration,” katanya.

Menko PMK mencontohkan pengalaman Indonesia, dengan masyarakat yang beragam (lebih dari 700 suku), mampu bersatu di bawah naungan ideologi bangsa dan negara yaitu Pancasila. Gotong royong, lanjutnya, merupakan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan bersama, amal semua buat kepentingan semua.“Tidak ada amal yang terlalu kecil atau pun amal yang terlalu besar, semua memiliki peran dan kerja buat kepentingan semua,” ungkapnya. Gotong-royong, jelasnya juga sebuah persaudaraan dan kekeluargaan.Dengan dilandasi semangat gotong-royong tersebut, maka pemuda memiliki visi yang sama dalam memperjuangkan dan membangun peradaban dunia yang maju dan bermartabat. “Hidup dalam persaudaraan dan tanpa adanya eksploitasi antar kelompok, antar masyarakat, antar bangsa, dan antar negara.Setiap  yang mengandung unsure eksploitasi, tidakakan dapat berdampingan dengan perdamaian,” pungkasnya.

Jeju Forum for Peace and Prosperity dimulai sejak tahun 2001 dan diorganisir oleh Jeju Development Institute. Forum ini dihadiri delegasi lebih dari 70 negara yang terdiri dari politisi, birokrat, diplomat, akademisi, wirausaha, dan para wartawan serta perwakilan lembaga internasional.Terdapat 71 sesi pertemuan dalam forum tersebut.Dalam Keynote Speech bertema, “Peran Pemuda dan Kebudayaan dalam Membentuk Masa Depan yang Damai dan Berkelanjutan,” turut hadir, Chairman of the Executive Committee and President of the Jeju Peace Institute, SUH Chung Ha; Chairman of the Organizing Committee of Jeju Forum for Peace and Prosperity, WonHeeryong;  the Director General of the UNESCO Asia-Pacific Centre of Education, Executive Director of  El Sistema. Eduardo Mendez; serta Perwakilan Pemerintah Provinsi Jeju dan Kementerian Luar Negeri Republik  Korea. PS

Categories: