Oleh humas2 on September 07, 2017

Yogyakarta (07/09)-- Deputi bidang Koordinasi Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang  Kebudayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), yang diwakili oleh Asisten Deputi (Asdep) Warisan Budaya, Pamuji Lestari, memberikan arahan pada rapat koordinasi Pelestarian Cagar Budaya di Yogyakarta, Kamis pagi. Menurutnya, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa  cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan. “Hal tersebut berguna karena cagar budaya memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan,” tegasnya lagi.

Selain itu, lanjut Pamuji, cagar budaya juga memiliki potensi yang sangat besar bagi dunia pariwisata. Apalagi Indonesia, termasuk Provinsi DI Yogyakarta memiliki cagar budaya yang sangat banyak jumlahnya dan beragam. “Di Yogyakarta ini Cagar budaya tersebar di kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunung Kidul, dan Kota Yogyakarta sendiri,” ungkapnya.

Sebagai kota budaya dan pariwisata, menurut Pamuji, keberadaan cagar budaya di Yogyakarta mempunyai andil yang cukup besar dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama bagi masyarakat/komunitas di sekitar kawasan daerah tujuan wisata. “Di samping itu pariwisata dapat menjadi wahana bagi masyarakat untuk meningkatkan rasa cinta tanah air, menjaga kelestarian lingkungan, menjaga nilai-nilai tradisi dan sosial budaya, serta dapat dijadikan wahana untuk mengatasi pengangguran dan penanggulangan kemiskinan.”

 Pamuji mengatakan, bahwa menjaga dan melestarikan cagar budaya banyak tantangannya. Contohnya, cagar budaya yang terkena langsung oleh hujan dan sinar matahari sangat rentan mengalami kerusakan dan pelapukan. Belum lagi kerusakan yang disebabkan oleh manusianya. Untuk menjaminkan keberlanjutan cagar budaya, menurut Pamuji, cagar budaya harus dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan serta pembinaan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya bermanfaat bagi kemakmuran rakyat. “Untuk itulah kami menyelenggarakan rapat koordinasi yang akan mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang terjadi berkaitan dengan upaya pelestarian cagar budaya di wilayah Provinsi DI Yogyakarta, serta rencana penanganannya,”jelas Pamuji.

Pelestarian cagar budaya, tambahnya, tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan seluruh pemangku kepentingan yakni pemerintah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat sipil dan semuanya mempunyai peran yang sama. “Untuk lebih mengoptimalkan upaya pelestarian cagar budaya, maka koordinasi antar seluruh pemangku kepentingan harus terus ditingkatkan. Seiring dengan itu, maka seluruh program kegiatan pelestarian cagar budaya harus direncanakan secara sistematis, terpadu, terintegrasi, dan berkesinambungan, serta berbasis pada pemberdayaan masyarakat,” harap Pamuji lagi.

Kabid Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemenko PMK, Harris Djayadi dalam laporannya mengatakan bahwa upaya-upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan perlu dilakukan dengan menyiapkan konsep dasarnya dalam bentuk masterplan dan dokumen implementasi secara rinci. “Kekurangcermatan dalam memahami permasalahan dan dalam menganalisis kondisi yang ada dapat mengakibatkan upaya pelestarian tidak memberikan hasil yang memuaskan,” kata Harris.

Pelaksanaan Rapat Koordinasi Pelestarian Cagar Budaya di Yogyakarta ini secara resmi di buka oleh Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Gatot Sdanatriyadi dan dikuti oleh para penggiat serta pengelolaan cagar budaya, perguruan tinggi, dan kalangan media. Rakor kali ini juga menghadirkan narasumber Pakar Budaya dai UGM, Wiendu Nuryanti; Direktur Cagar Budaya dan Permuseuman, Kemdikbud, Harry Widianto; Plt. Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Prov. DIY, dan Asdep Warisan Budaya, Kemenko PMK, Pamuji Lestari. (DAM)

 

Categories: