Oleh humas2 on February 07, 2017

Jakarta (07/02) – Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, Sigit Priohutomo, hadir dan memberikan keynote speech dalam Rakornas Kependudukan, Keluarga Berencana, Pembangunan Keluarga (RKP) Tahun 2017.

Tema RKP 2017 adalah “Memacu Pembangunan Infrastruktur dan Ekonomi untuk Meningkatkan Kesempatan Kerja serta Mengurangi Kemiskinan dan Kesenjangan Antarwilayah”. Sigit dalam sambutannya mengatakan, “Dalam Rakornas ini, saya meminta BKKBN untuk juga fokus dalam upaya mencapai target penurunan angka kelahiran seperti yang tertera di dalam RPJMN 2015-2019, yaitu 2,6.”

Program Kampung KB, yang menjadi salah satu agenda strategis Pemerintah, di lapangan telah memperlihatkan fakta bahwa sebagian Kampung KB yang sudah dicanangkan Pemerintah mulai menunjukkan hasil positif. Namun sebagian Kampung KB lainnya belum menunjukkan kerja nyata dan masih sebatas seremonial.

Kampung KB harus mampu menunjukan perubahan positif di masyarakat. Kampung KB harus mampu menjadi contoh perwujudan gotong-royong integrasi berbagai program Pemerintah. Pelaksanaan Kampung KB yang di integrasikan dengan program kementerian lainnya, seperti Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, KUBE (Kelompok Usaha Bersama), Gerakan Nasional revolusi Mental, Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), dan Program Pemberdayaan lainnya, akan dapat ikut mempercepat upaya mengatasi kesenjangan.

Ukuran keberhasilan pembangunan manusia ialah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dengan 3 indikator yaitu tingkat kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Pemerintahan saat ini telah berhasil meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia, dari 73,8 (tahun 2014) menjadi 75,3 (tahun 2016). Target IPM pada akhir tahun 2019 sesuai RPJMN adalah 76,3. Pemerintah optimis akan dapat mencapai target tersebut dan dengan gotong royong semua pihak termasuk melalui Program KKBPK.

Program KKBPK (Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga) akan dapat berperan dalam meningkatkan IPM melalui 3 jalur. Pertama, program KKBPK dapat menekan angka kematian bayi yang berdampak pada meningkatnya usia harapan hidup yang menjadi indikator IPM kesehatan.

Kedua, program KKBPK menyebabkan perencanaan dalam keluarga lebih baik. Jumlah anak lebih sedikit menyebabkan orang tua mampu memberi pendidikan anak lebih baik. Dampaknya, indikator IPM pendidikan juga akan membaik. Ketiga, KKBPK dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup keluarga. Sehingga, indikator IPM ekonomi juga meningkat.

Program KKBPK, juga dapat berperan dalam memperluas Gerakan Nasional Revolusi Mental dalam pembangunan keluarga. Pembangunan manusia berawal dari keluarga. Keluarga menjadi wahana pertama dan utama pembangunan manusia. Pembentukan perilaku yang berbudi pekerti, memiliki semangat pantang menyerah, dan berjiwa gotong royong, dimulai dari keluarga. Oleh karena itu Pembangunan Keluarga merupakan pilar yang sangat penting di dalam membangun manusia Indonesia yang berkarakter dan memahami nilai-nilai Pancasila.

“Program KKBPK, dalam bidang Pembangunan Keluarga dan Kesehatan, dapat dilakukan dengan mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Kita harus menyadari bahwa Germas harus berawal dari lingkungan keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat”, tutur Sigit. Keluarga menjadi sangat penting dalam membangun kesehatan keluarga. Pembangunan Keluarga yang sehat, dapat dimulai dengan melakukan langkah kecil seperti menjaga kebersihan rumah, cuci tangan sebelum makan, memiliki sumber air bersih dan air minum terlindungi, makan sayur dan buah yang cukup, olahraga, tidur yang cukup, menjauhkan anak-anak dari rokok, dan sebagainya. Langkah tersebut akan berdampak luar biasa bagi keluarga kita dalam jangka panjang yang berarti kita juga telah ikut dalam membangun kualitas hidup manusia Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.

Hadir pula dalam Rakornas ini Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Kepala BKKBN Surya Chandra Surapati. (olv)