Oleh humas2 on August 07, 2017

Jakarta (07/08)--- Untuk mengetahui perkembangan Program Kampung KB secara langsung, Staf Ahli Bidang Kependudukan Kemenko PMK, Sonny HB   Harmadi, melakukan kunjungan lapangan (monitoring) dan berdialog langsung dengan masyarakat serta pemangku kepentingan Kampung KB di Kabupaten Gorontalo, Sabtu lalu (29/07). Lokasi pelaksanaan monitoring tepatnya di Kampung KB Harapan, Desa Motinelo, Kec Tabongo, Kab Gorontalo. Turut mendampingi kunjungan ini Bupati Gorontalo, Sekretaris Utama BKKBN, Ketua Koalisi Kependudukan Provinsi Grontalo, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Gorontalo, dan para pimpinan SKPD terkait. Dalam dialog dengan masyarakat, kader, PLKB, Camat dan Kepala Desa terungkap bahwa ada perkembangan positif pasca pencanangan Kampung KB tahun 2016.

Dari hasil kunjungan itu diketahui bahwa angka pernikahan dini disebutkan menurun drastis. Orang tua di Desa Monitelo diwajibkan menyekolahkan anaknya sebagai cara menunda perkawinan. Pendidikan di Kab Gorontalo seperti dijelaskan oleh Bupati disediakan secara gratis. Perubahan lainnya ialah adanya pemutakhiran data kependudukan secara berkala dan tersedia di Rumah Dataku (Rumah Data Kependudukan). Namun demikian, dengan jumlah penduduk mencapai 1749 jiwa, sebagian pasangan usia subur di Desa Motinelo belum mau berpartisipasi ikut KB, terutama di RW 01 yang keikutsertaannya di bawah 40 persen.

Umumnya, mereka yang menolak ikut KB dengan alasan takut efek samping. Ke depan, Bupati Gorontalo ingin agar setiap Kampung KB di Gorontalo memiliki sektor unggulan dan dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu hal positif yang ditemukan ialah keluarga pemilik balita sudah 78 persen yang aktif mengikuti kegiatan Posyandu. Kunjungan Sonny kali ini juga dirangkai dengan memberikan ceramah di Universitas Negeri Gorontalo dengan tema “Pembangunan Berwawasan Kependudukan yang Berkelanjutan.” Ceramah akademik itu disampaikan dalam rangka memperingati Hari Kependudukan se-Dunia yang jatuh pada 11 Juli lalu.

Ceramah diikuti lebih dari 300 peserta termasuk jajaran pimpinan universitas, para mahasiswa, dan dosen. Dalam diskusi terungkap bahwa beberapa pihak menolak Program KB dengan alasan bahwa jumlah penduduk Gorontalo masih terlalu sedikit. Sonny menjawab bahwa kemajuan suatu bangsa lebih ditentukan oleh kualitas penduduknya dan bukan kuantitasnya. Sonny juga menjelaskan bahwa KB harus dimaknai untuk membangun perencanaan di dalam keluarga, dimana perencanaan tersebut diwujudkan secara bertahap dan berkelanjutan. (sumber: SAM Kemenko PMK)