Oleh humas on July 09, 2014

Jakarta, 9 Juli - Suatu studi pendahuluan menunjukkan, perempuan dengan kolesterol tinggi dalam darah berisiko lebih besar menderita kanker payudara.
 "Ini meningkatkan kemungkinan mencegah kanker payudara menggunakan statin, yang dapat menurunkan kolesterol, namun sebagai studi lampau, signifikansi waktu dan penelitian diperlukan sebelum ide ini dapat diuji," ujar pendiri unit studi Algorithm for Comorbidities, Associations, Length of stay and Mortality (ACALM) dan penulis, Dr. Rahul Potluri.
Selama lebih dari beberapa tahun terakhir, studi populasi telah memperlihatkan sebuah hubungan antara obesitas dan kanker payudara. Tahun lalu, sebuah studi yang menggunakan tikus sebagai objeknya menyimpulkan, menurunkan kolesterol mungkin dapat mencegah atau mengobati kanker payudara.
"Kami memiliki prinsip kalau obesitas berhubungan dengan kanker payudara dan sebuah studi menunjukkan hal ini mungkin karena kolesterol. Kami memutuskan menyelidiki apa ada hubungan lain antara hiperlipidemia, yang secara esensial kolesterol tinggi dan kanker payudara," kata Dr. Polturi seperti dilansir Female First dan dirilis laman Antara News.,com.
Untuk sampai pada kesimpulan ini, para peneliti melakukan analisis retrospektif pada lebih dari satu juta pasien di Inggris antara 2000 dan 2013 menggunakan database ACALM.
Dalam database ini, diketahui sekitar 664.159 orang perempuan. Sebanyak 22.938 orang dari mereka menderita hiperlipidemia (penyakit akibat kadar lemak dalam darah meningkat) dan 9.312 orang menderita kanker payudara.
Sementara 530 orang perempuan menderita hiperlipidemia yang berkembang ke arah kanker payudara.
Dalam hal ini, para peneliti menggunakan model statistik untuk mempelajari hubungan antara hiperlipidemia dan kanker payudara. Mereka menemukan, memiliki hiperlipidemia meningkatkan risiko kanker payudara sebanyak 1,64 kali.
"Kami menemukan, perempuan dengan tingkat kolesterol tinggi, memiliki kesempatan lebih besar menderita kanker payudara. Ini merupakan studi observarsional, jadi kami tidak dapat menyimpulkan kolesterol tinggi menyebabkan kanker payudara, namun kekuatan hubungan ini memerlukan penyelidikan lebih lanjut," kata Dr. Potluri.
"Sebuah studi prospektif yang memantau risiko kanker payudara pada perempuan yang memiliki kolesterol dan tidak dibutuhkan untuk mengonfirmasi apa yang kami temukan. Jika hubungan antara kolesterol tinggi dan kanker payudara adalah valid, langkah berikutnya akan melihat apakah menurunkan tingkat kolesterol menggunakan statins dapat mengurangi risiko perkembangan kanker," tambahnya.
Dia menyimpulkan, sekalipun studi ini merupakan awalan, namun hasilnya menjanjikan. Studi ini menemukan hubungan signifikan antara memiliki tingkat kolesterol tinggi dan perkembangan kanker payudara yang perlu diselidiki lebih dalam.
"Peringatan diperlukan saat menginterpretasi hasil penelitian ini karena meskipun kami melakukan studi populasi yang luas, analisis yang digunakan adalah retrospektif dan observasional dengan keterbatasan," katanya.
Sementara itu, Petugas Kebijakan Senior dari Breakthrough Breast Cancer, Dr. Caroline Dalton, mengatakan, meskipun studi ini tidak membuktikan kolesterol tinggi menyebabkan kanker payudara, namun menyajikan alasan menarik mengapa penelitian lebih lanjut harus dilakukan di daerah tertentu.
"Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah menurunkan kolesterol, misalnya melalui penggunaan statin, dapat mengurangi risiko kanker payudara, " katanya.
Menurutnya, kita semua sudah mengetahui ada berbagai hal yang dapat perempuan lakukan untuk membantu mengurangi resiko terserang penyakit ini, seperti menjaga berat badan yang sehat atau melakukan gaya hidup aktif.(Ant/Gs).