Oleh humas on November 29, 2017

Jakarta (29/11) ---Untuk meminimalisir dampak psikologis masyarakat yang terpapar erupsi Gunung Agung, pemerintah akan melaksanakan berbagai program/ kegiatan yang meringankan beban ekonomi dan sosial. K/L harus lebih fokus menggiatkan programnya di Kabupaten/ kota yang ada di Bali.

Demikian ditegaskan oleh Menko PMK Puan Maharani dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) terkait antisipasi dampak erupsi Gunung Agung. Menko PMK meminta agar setiap K/L lebih fokus menggiatkan programnya di Kabupaten/Kota di Bali. Hal tersebut guna meminimalisir dampak psikologis masyarakat yang terkena dampak erupsi Gunung Agung, sekaligus meringankan beban ekonomi dan sosial.

Diharapkannya, agar aktivitas- aktivitas posko penanganan darurat bencana erupsi Gunung Agung lebih ditingkatkan lagi. Termasuk, mengaktifkan dan memperkuat peran posko pendamping di Provinsi Bali serta memaksimalkan fungsi service center untuk sosialisasi dan penyebarluasan informasi tentang perkembangan aktivitas Gunung Agung maupun upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah.

Menko PMK juga meminta agar masyarakat dilarang melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 Km dari kawah puncak Gunung Agung. Ditambah perluasan sektoral ke arah utara-timur laut dan tenggara-selatan- barat daya sejauh 10 Km.

Secara umum menurut Menko PMK kehidupan di Bali relatif normal tidak seperti yang digambarkan oleh media-media yang ada. Adapun yang terganggu hanya jadwal penerbangan saja. Turis asing pun dapat memperoleh perpanjangan Visa yang lebih mudah apabila Visa kunjungannya sudah habis akibat terganggunya jadwal penerbangan.  Perpanjangan visa tersebut dapat dilakukan di bandara dan kantor imigrasi. Menko PMK meminta Kementerian Pariwisata untuk  mensosialisasikan kepada para turis asing agar tidak perlu khawatir dengan pemberitaan ini, karena masih banyak destinasi wisata di Bali yang masih bisa dikunjungi.

Sampai saat ini, salah satu permasalahan yang ada dilapangan adalah jumlah pengungsi yang sangat fluktuatif. Menurut catatan, jumlah pengungsi  pada 28/11  sebesar 29.673 Jiwa yang tersebar di 217 tempat. Meski begitu, kemungkinan  jumlah tersebut bisa berubah karena mobilitas pengungsi sangat tinggi. Secara umum, penanganan pengungsi sudah dilakukan dengan memadai. Baik dari sisi penyediaan logistik, air bersih, sanitasi, dan pelayanan kesehatan.

Sementara, Kabupaten Karangasem menjadi wilayah yang paling parah terpapar erupsi Gunung Agung. Dalam derajat yang lebih ringan dampak erupsi ini juga terasa di Kabupaten/kota lainnya yang ada di Bali diantaranya, Klungkung, Bangli, dan Buleleng. Karena itu secara umum suasana kehidupan di Bali normal dan sejumlah destinasi wisata seperti di Tabanan, Denpasar, dan Jembrana tidak terganggu.

Terkait dengan ancaman banjir dan tanah longsor di tanah air, Menko PMK berpesan agar dilakukan upaya-upaya dalam mengantisipasi banjir dan tanah longsor yang tengah menerpa di Indonesia. Menurutnya,  banjir dan tanah langsor sudah terjadi dari awal tahun, lebih dari 1,8 juta penduduk merasakan dampak longsor dan banjir, diperlukan kesiapsiagaan K/L terkait untuk membantu para korban. “Saya minta kepada K/L terkait banjir dan longsor dari siklon di pulau jawa, kita antisipasi lagi dengan memberi peringatan dini kepada semua pihak, dan meyiapkan semuanya mulai dari beras, logistik, air bersih, sanitasi, dan pelayanan kesehatan, dan saya lihat semua K/L sudah siap dan siaga dalam mengantisipasi bencana ini,” pungkasnya.

Hadir dalam RTM kali ini, Menteri Sosial Khofifah Indarparawansa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, Menteri PUPERA Basuki Hadimuoeljono, Kepala BNBP Willem Rampangiley, Kepala KSP Teten Masduki, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, serta beberapa perwakilan K/L lainnya. RC