Oleh humas2 on April 12, 2017

Bandar Lampung (12/04)--- Meskipun berbagai regulasi sudah terdapat sedemikian rupa, begitu juga dengan upaya penegakan hukumnya, nyatanya beraneka kasus kekerasan yang korbannya anak-anak terus saja terjadi. Kenyataan ini merupakan pertanda bahwa para orang tua di Indonesia masih belum siap terhadap efek negatif teknologi. “Jika masalah ini tidak diatasi, Indonesia akan sulit capai kemajuan dan masa depan yang gemilang terlebih pada saat bonus demografi di tahun 2020 - 2030 nanti.” Demikian salah satu arahan Deputi bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK, Sujatmiko, Rabu pagi di tengah forum rapat koordinasi Pembangunan Keluarga dalam rangka Peningkatan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga melalui Revitalisasi Fungsi-fungsi Keluarga, di Kota Bandar Lampung.

Untuk menyongsong bonus demografi tadi, tambah Sujatmiko, dapat dilakukan dengan memperkuat generasi muda bangsa atau anak dan remaja yang semuanya dapat dimulai dari keluarga. “Kalau keluarganya damai dan harmonis, anak-anak kita tentu akan menjadi generasi yang kuat dan hebat. Hebat moralnya, pendidikannya, kesehatannya, hatinya juga,” katanya lagi.

Bagi Sujatmiko, penduduk merupakan aset bagi suatu negara. Maka, generasi muda seharusnya sudah sejak dini diisi dengan berbagai hal positif dalam kesehariannya sehingga nanti terbiasa dengan kehidupan yang baik. “Untuk mewujudkan upaya semacam ini, Pemerintah tentu tidak dapat berjalan sendiri karena masalah bangsa adalah masalah bersama yang perlu juga kerja bersama oleh kita semua,” tutupnya dalam arahan rakor.

Tema rakor pagi ini diapresiasi penuh oleh Gubernur Lampung, Ridho Ficardo, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekda Prov Lampung, Sutono. "Membangun keluarga dan merevitalisasi fungsi-fungsi keluarga tentu sangat sejalan dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental yang tengah kita alami sekarang. Ajakan 'Ayo Berubah' hendaknya kita pahami bersama sebagai kemauan untuk berubah menjadi lebih baik dan itu dapat dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga. Semoga makin banyak Keluarga Indonesia yang sedang dan selalu siap berubah untuk kehidupan mereka yang lebih baik di masa depan."

Mendidik anak bangsa dengan ajaran-ajaran positif, menurut salah satu Nara Sumber dalam rakor pagi ini, Melly Kiong, dapat dimulai melalui pemahaman akan makna parenting. Sejauh ini, parenting lebih dimaknai sebagai beban masalah dan bukan tantangan bagi pasangan orang tua untuk terus belajar dan secara disiplin menumbuhkan karakter anak.

“Misalnya, mari kita mulai dengan pertanyaan bagaimana membuat anak mau bersopan santun dan jangan lagi bertanya kenapa ada anak yang tidak sopan kepada orang tuanya, orang dewasa lainnya, dan lingkungan sekitarnya?” Kata Melly lagi.  Ditambahkannya, mendidik karakter anak juga tidak selalu di ruang tertutup seperti dalam kelas tetapi anak itu perlu terjun langsung ke kondisi sebenarnya bahkan hanya untuk merasakan orang lain yang sedang terkena musibah, atau sekadar melihat kondisi alam agar mereka terasah kepekaan sosialnya.

Terdapat lima nilai penting menurut Melly yang juga Pendiri organisasi parnting bernama ‘eMKa' atau Menata Keluarga ini antara lain kemauan orang tua untuk mau lebih banyak mendengar dengan penuh perhatin dan berbicara penuh empati kepada anak; tidak selalu menghakimi anak karena dapat berimbas pada kepercayaan dirinya; orang tua diminta untuk banyak bersabar; adil dan bijaksana; serta mau melakukan semuanya dengan rasa cinta kepada anak.

Rakor Pembangunan Keluarga di Provinsi bergelar “Sai Bumi, Rua Jurai” ini dibuka oleh Sekda Prov Lampung, Sutono, yang hadir mewakili Gubernur Lampung. Sesi diskusi dalam rakor menampilkan Nara Sumber yaitu Deputi bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, Ambar Rahayu; Pakar Parenting, Melly Kiong; dan Kepala BKKBN Prov Lampung, Paulina. Rakor dihadiri oleh jajaran SKPD Prov Lampung serta Perwakilan dari Pemerintah Kab/Kota sekitarnya, Perwakilan komunitas, LSM, Mahasiswa penggiat Forum Komunikasi Peduli Kependudukan, dan media lokal. Rakor lalu ditutup dengan pembacaan kesimpulan oleh Asdep bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Kemenko PMK, Rudoro Santoso. (IN)