Oleh humasnew on July 26, 2018

Batam (26/07)--- Membangun Science and Techno Park (STP) atau yang dikenal juga dengan istilah Kawasan Sains dan Teknologi (KST) nyatanya tidak selalu soal jumlah tetapi kembali pada soal kualitas dan bagaimana keberlanjutannya di masa mendatang. Sebagai salah satu program prioritas nasional, STP di tahun 2019 nanti memang terus diupayakan mencapai jumlah 100 unit STP bahkan lebih tetapi di sisi lain, semua pemangku kepentingan juga seharusnya dapat berpikir realistis bahwa mewujudkan STP yang baik perlu investasi dalam jumlah besar, waktu yang lama, dan juga kesiapan infrastruktur khususnya  Sumber Daya Manusia yang mumpuni. Demikian disampaikan oleh  Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kemenko PMK, Agus Sartono, saat membuka rapat koordinasi dan sinkronisasi pembangunan Science and Techno Park sebagai Program Nasional 2015-2019 di Kota Batam, Kamis pagi. 

“Korea Selatan bisa seperti sekarang (dalam membangun STP—red) butuh waktu 25 sampai 30 tahun. STP yang sudah maju itu dibangun karena semuanya sudah mereka rencanakan dan siapkan dengan baik. Indonesia juga bisa seperti itu tetapi butuh kesadaran yang sama bahwa semuanya dibangun tidak bisa dalam waktu singkat dan tentu dengan tidak meninggalkan potensi keindonesiaan kita semisal Usaha Kecil dan Menengah (UKM)” kata Agus. Adapun konsep STP yang ideal menurut Agus adalah yang mampu menjadi fasilitator bagi aneka penemuan teknologi tepat guna, sentra UKM, dan pusat riset nasional. “Di beberapa negara, STP juga berperan sebagai katalis penciptaan lapangan kerja. Maka kemudian saya mendorong agar STP yang sedang kita wujudkan bersama itu dikelola secara profesional dan oleh mereka yang juga sesuai bidangnya,” kata Agus lagi. 

Terbangunnya STP yang ideal, lanjut Agus, memang butuh kerjasama semua pihak dan yang terpenting adalah komitmen kuat dari pemerintah daerah dan pusat untuk mendukung dengan anggaran. “Maka momentum kebersamaan kita seperti sekarang ini, dapat dimanfaatkan sebagai ajang untuk saling bersepaham, bersinergi untuk membangun STP seperti yang kita cita-citakan bersama.” Batam Techno Park sebagai salah satu dari 22 STP yang ditargetkan menjadi mature (mapan) pada 2019, merupakan kemitraan antara Kementerian Perindustrian dengan Politeknik Negeri Batam.

Agus menambahkan, membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, berdaya saing, dan mandiri secara ekonomi dapat dimulai dari proses pembelajaran dan tempaan keterampilan yang baik di bangku politeknik. “Teaching factory yang ada bisa digunakan sebagai arena transfer knowledge yang akhirnya menghasilkan lulus terbaik. Teaching Factory jangan berorientasi pada produk dan keuntungan semata tetapi lebih pada inovasi-inovasi  seperti teknologi tepat guna. Biarkan nanti para lulusan politeknik yang menjadi pelaku-pelaku usaha baru, yang dapat membuka lapangan kerja baru, membantu mengurangi angka kemiskinan, dan juga membangkitkan perekonomian daerahnya,” paparnya lagi. 

Untuk wilayah Kota Batam, seperti yang diungkapkan oleh Direktur Politeknik Negeri Batam, Priyono Eko Sanyoto, STP yang coba dibangun awalnya memang fokus pada teknologi desain ponsel. Namun, sesuai dengan kondisi wilayah yang dikenal sebagai kawasan industri, STP yang ada mengarah pada aneka temuan teknologi yang juga sesuai dengan kebutuhan tren industri, seperti yang saat ini digalakkan yaitu mesin pembuat minuman kopi dan teknologi mikro elektronik. “Kesulitan kami adalah hanya soal permodalan dan kelembagaan. Secara akademik kami berada di bawah Kemenristek Dikti tetapi di sisi lain, STP kami berada di bawah binaan Kemeperin,” katanya. Menurut Agus, seharusnya hal itu bukan malah menjadi penghambat tapi menumbuhkan kolaborasi sehingga Batam Techno Park lebih cepat maju.

Rapat koordinasi dan sinkronisasi tentang pembangunan STP ini turut dihadiri oleh Direktur Kawasan Sains dan Teknologi serta Lembaga Penunjang Lainnya pada Dirjen Kelembagaan IPTEK dan Dikti, Kemenristek Dikti, Lukito Hasta; Jajaran SKPD Kota Batam, Jajaran Rektorat dari sekolah tinggi teknik dan politeknik se-Kota Batam, dan para mahasiswa politeknik di Kota Batam. (*)

Categories: