Oleh humas on November 05, 2018

Yogyakarta, (05/11) -- Penetrasi pengguna Internet di Indonesia terus mengalami peningkatan, di tahun 2017, dari 262 juta penduduk Indonesia sebanyak 143,26 juta jiwa menggunakan internet, dengan komposisi terbesar (49,52 persen) pada usia 19-34 tahun, kedua (29,55 persen ) di usia 35-14 tahun dan ketiga (16,88 persen) di usia 13-18 tahun. Di satu sisi berbagai kasus kejahatan seksual anak/KSA pada tahun 2018 disebabkan oleh pengaruh Pornografi sebanyak 42.42 persen, pengaruh teman sebaya 30.30 persen, pengaruh miras 16.67 persen, lainnya 7.58 persen dan Napza 3.03 persen. 
Demikian disampaikan oleh Asisten Deputi Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga pada Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK, Wahyuni Tri Indarty dalam paparan berjudul “ Arah Strategis dan Master Plan Pemerintah Dalam Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi ” dalam acara Workshop Pencegahan dan Penanganan Pornografi bagi Pengelola dan Mahasiswa Asing, bertempat di Grand Mercure Yogyakarta 1 – 3 November 2018.

Wahyuni, yang hadir mewakili Plt Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK menyampaikan bahwa kondisi saat ini, Indonesia Darurat Pornografi, hal ini sesuai dengan data bahwa 50.000 aktivitas pornografi setengahnya adalah pornografi anak. Dari Januari s.d Agustus 2018, kekerasan terhadap anak dan kekerasan seksual anak, kasus pencabulan terjadi 141 kali, pemerkosaan 120 kali, sodomi 36 kali dan inses 19 kali. 

Pada kesempatan yang sama, Azimah Subagio selaku Ketua Umum Masyarakat Tolak Pornografi (MTP) menegaskan bahwa pornografi menjadi hal yang berbahaya karena dalam penyebarannya  mendompleng kemajuan terknologi informasi, khususnya media sosial, sehingga kini situs-situs pornografi semakin mudah diakses oleh siapapun, termasuk anak-anak dan remaja, karenanya membangun kesadaran bahaya pornografi ke seluruh masyarakat dunia kini mendesak untuk dilakukan. 

Kemenko PMK selaku Ketua Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi memberikan perhatian serius terhadap berbagai kasus kekerasan terhadap anak maupun kejahatan seksual terhadap anak. Oleh karenannya menyambut baik dan memberikan apresiasi terlaksanannya kegiatan workshop ini sebagai upaya sosialisasi dan edukasi terhadap mahasiswa asing yang kemudian diharapkan akan menjadi ujung tombak untuk memerangi  pornografi antar negara. 

Dalam penutupnya, Wahyuni menerangkan 3 (tiga) hal yang harus menjadi komitmen dan perhatian serius dalam konteks preventif terpaparnya anak dalam hal pornografi, yaitu; Pertama, penanggulangan pornografi harus dimulai dari institusi keluarga dengan reaktifisasi fungsi-fungsi keluarga. Keluarga merupakan wadah utama dan pertama yang mendidik sikap, jatidiri dan pembentukan karakter. Hal ini sangat terkait dengan pola asuh, cara mendidik anak, dan kemampuan keluarga menerjemahkan ajaran agama, budaya, dan etika perilaku keseharian. 

Kedua, penguatan sinergitas, koordinasi dan komitmen para pihak, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia pendidikan, swasta, media massa, penggiat pornografi/LSM, swasta, tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat, dll untuk bersama-sama melakukan aksi nyata pencegahan bahaya pornografi sekaligus penindakan terhadap para pelaku pornografi melalui berbagai bentuk. 

Ketiga, penanganan konten pornografi harus dilakukan dari hulu ke hilir. Dari sisi hulu penanganan dilakukan melalui literasi ke masyarakat agar berperilaku dan berbudaya dan memanfaatkan media sosial secara cerdas untuk mengurangi bahaya pornografi dan dampak konten negatif lainnya. Sedangkan sisi hilir kontribusi masyarakat untuk melaporkan konten-konten negatif  kepada Kominfo dan  penegakan hukum.

Kegiatan ini diikuti oleh 80 orang, dari pengelola/pegawai dan Mahasiswa Asing yang belajar di PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Wali Songo Semarang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Radin Intan Lampung, IAIN Salatiga, dan IAIN Purwokerto. Mahasiswa asing yang belajar di PTKIN berasal dari sejumlah negara, antara lain dari Afrika, Malaysia, Thailand, Libya, Somalia, Kanada, China, Rusia, Philipina, Singapura dan Simbabue. (Kedeputian VI)

Categories: