Oleh humas on October 30, 2017

Jakarta (30/10) – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), bekerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung (FES) dan Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, hari ini mengadakan Seminar Nasional Mewujudkan Desa Unggul dan Berkelanjutan bertempat di Hotel Harris Vertu Jakarta. Seminar ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan Kemenko PMK sejak tahun 2016 bersama FES dan Universitas Katolik Parahyangan terkait penajaman format pembangunan yang berbasis pada keunggulan dan potensi lokal, inovasi dan keberlanjutannya. Sejak tahun 2016 hingga 2017 ini,Kemenko PMK sudah melakukan survei terhadap 11 desa yang dianggap unggul dan bisa dijadikan contoh bagi desa-desa lain.

Di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo, desa tidak lagi dianggap ‘kelas 2’ karena Pemerintah juga sudah menyatakan akan hadir bagi daerah-daerah 3T (Terdepan, tertinggal, terluar). Dalam sambutannya, Dekan FISIP Universitas Katolik Parahyangan, Pius Sugeng Prasetyo, mengatakan, “Ketika kita melihat desa, kita tidak melihat kekurangan dan keterbelakangan saja, tetapi desa mampu mengekspolarasi potensi-potensi yang dimiliki. Harapannya, potensi tersebut ditopang oleh kekuatan-kekuatan dari bawah dengan dukungan Pemerintah, NGO, dan perguruan tinggi.”

Keberadaan desa oleh Resident Director FES Indonesia Sergio Grassi juga dianggap penting. FES, sebuah organisasi non profit asal Jerman yang mempromosikan demokrasi liberal, supremasi hukum, kebebasan ekonomi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, menjadi rekan Kemenko PMK dalam mewujudkan desa unggul dan berkelanjutan ini. Dalam sambutannya, Resident Director FES mengatakan, “Desa adalah bagian yang penting di Indonesia. Desa penting dalam hubungannya dengan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia. Desa-desa terpilih bukan saja sebagai contoh, tetapi menjadi source of excellence.”

Pembangunan desa merupakan hal yang sejalan dengan program kerja Universitas Katolik Parahyangan, yaitu membangun manusia dan desa. “Negara bertumbuh, berkembang dan akan maju hanya karena desa”, ujar Rektor Universitas Katolik Parahyangan, Mangadar Situmorang. Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan Kemenko PMK, I Nyoman Shuida menyampaikan, di era Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pembangunan desa merupakan Prioritas Pembangunan Nasional hingga 2019. Namun ternyata, muncul berbagai masalah yang dihadapi desa saat ini. Masalah tersebut bukan berapa jumlah nominal dana yang diterima desa, namun bagaimana mekanisme pertanggungjawaban dan penyederhanaan mekanisme pertanggungjawaban serta pelaporannya. Untuk itu, perlu penyederhanaan mekanisme pertanggungjawaban dan penyederhanaan laporan penggunaan Dana Desa dan laporan penggunaan APBDes. “Pembangunan desa harus kita dukung dan ini menjadi tangung jawab kita bersama agar desa-desa menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di masa depan”, ujar Nyoman Shuida.

Saat ini, Pemerintah melalui agenda Nawacita terus berupaya membangun dan mewujudkan kesejahteraan rakyatnya melalui berbagai kebijakan pro pembangunan desa yang tentunya tetap mengedepankan pengakuan dan keberpihakan atas otonomi, keanekaragaman yang dimiliki desa serta mengakomodasi berbagai pilihan dan kesempatan bagi masyarakat desa dengan kapasitasnya masing-masing secara mandiri dan inklusif.

Pembangunan berbasis desa dan kawasan perdesaan memberikan ruang bagi pengembangan upaya pelestarian budaya, kearifan lokal, dan berorientasi pada upaya memberikan nilai tambah terhadap berbagai karakteristik desa yang sudah ada, misalnya desa pertanian, desa perikanan, desa kopi, desa adat, desa wisata, dan lain sebagainya. Sehingga, desa akan menjadi pusat kegiatan produktif masyarakat berbasiskan potensi lokal. “Desa-desa unggul diharapkan dapat mengketuktularkan keberhasilannya, karena pembelajaran antar sesama desa merupakan metoda yang paling efektif untuk memajukan desa-desa yang masih tertinggal. Marilah kita memberi perhatian dan kerja nyata yang sungguh-sungguh pada upaya pembangunan desa,” tegas Seskemenko PMK menutup keynote speech-nya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bertema “Menuju Desa Inovatif Berbasis  Kearifan Lokal” dan “Permodelan Desa Unggul dan Berkelanjutan” serta pemaparan hasil penelitian Tim Universitas Katolik Parahyangan. Hasil dari seminar ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk menghasilkan suatu model pengembangan desa unggul dan berkelanjutan yang dapat direplikasikan ke desa-desa lainnya yang berbasis pada potensi dan keunggulan lokal.

Di seminar ini, beberapa perwakilan desa juga membawa pernak pernik dan makanan khas daerah mereka untuk dijual. Tercatat ada tenun tradisional dari Desa Leu di Nusa Tenggara Barat, aksesoris wanita dari Desa Nita di Nusa Tenggara Timur, hingga makanan seperti keripik rumput laut dari Desa Mallari di Sulawesi Selatan. Hadir pula dalam seminar ini Anggota DPR RI Komisi II, Budiman Sudjatmiko; perwakilan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, kepala-kepala desa di Indonesia, dan pemerhati desa. Para peserta yang berjumlah lebih dari 100 orang dan berasal dari seluruh Indonesia ini kompak hadir mengenakan pakaian dari daerahnya masing-masing. (olv)

 

Categories: