Oleh humasnew on July 04, 2018

Jakarta (04/07)--- Akses pasar, teknologi, pendampingan, pelatihan, akses pembiayaan, dan sebagainya menjadi bahasan penting di tengah forum dengar pendapat antara Kemenko PMK dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah yang telah mengembangkan budidaya udang dengan mempergunakan teknologi supra intensif dan telah diluncurkan sejak Februari 2018 lalu. Jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan dipimpin langsung oleh Kepala Dinas KP Sulteng, Hasanuddin Atjo, yang kemudian diterima oleh Plt. Deputi bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Kawasan, Kemenko PMK, Sony HB Harmadi.
 
Hasanuddin dalam paparannya menegaskan bahwa teknologi budidaya udang supra intensif skala rakyat dapat menjadi lahan investasi usaha berskala kecil hingga menengah. Teknologi budidaya udang supra intensif skala rakyat ini merupakan hasil pengembangan untuk memenuhi harapan masyarakat yang bermodal terbatas dalam mereplikasi teknologi budidaya udang paling produkti di dunia. Teknologi ini menggunakan kolam budidaya berkonstruksi sederhana karena berbahan terpal yang disangga oleh kerangka besi. Bahan-bahannya mudah didapatkan dan harganya relatif murah dengan investasi konstruksi hanya sekitar Rp20 juta setiap petak.

Setiap petak tambak, memiliki kapasitas tampung air sekitar 50 ton. Biaya operasional budidaya untuk setiap petak ini ditaksir Rp12 juta untuk setiap siklus dengan produktivitas 300 kg udang vaname per petak sekali panen. Dalam setahun, panen bisa berlangsung tiga kali. 
Bila seorang petambak memiliki satu petak saja, dengan tiga kali panen setahun Dia akan menghasilkan 900 kilogram udang yang bila dijual dengan harga rata-rata Rp70.000/kg, akan menghasilkan omzet Rp63 juta sedangkan biaya operasionalnya diperkirakan hanya sekitar Rp30 juta. Hasanuddin Atjo yang juga penemu teknologi budidaya udang supra intensif Indonesia yang diluncurkan pada 2018 itu yakin pengusaha kecil dan menengah di daerahnya bisa mengusahakan tiga sampai empat petak sehingga hasilnya akan lebih besar dan biaya operasional bisa lebih diminimalisasi.
 
“Teknologi Supra Intensif dalam budidaya udang ini tentu jadi inovasi baru yang dapat dimanfaatkan menjadi upaya pemberdayaan ekonomi baru masyarakat. Selain inovasi produknya, maka kita juga harus mengembangkan ini sebagai budaya baru di tengah masyarakat,” kata Sonny saat memberikan tanggapannya. Selain Kemenko PMK, K/L teknis terkait yang diundang dalam forum audiensi pada Rabu pagi ini juga menyatakan dukungannya, mulai dari pelibatan dana desa, kerjasama dengan perguruan tinggi, akses pasar, hingga pengolahan limbah. Sementara untuk akses pembiayaan perbankan, Perwakilan dari BRI yang diketahui sangat dekat dengan sektor UMKM di tanah air, mengatakan bahwa perbankan akan memberikan akses pembiayaan bagi pengembang budidaya udang dengan teknologi supra intensif ini sesuai dengan aturan yang berlaku. “Karena kami harus melihat dulu jalannya usaha ini minimal selama enam bulan, bagaimana hasilnya dalam siklus usaha yang diketahui dengan jumlah hasil panennya. Kalau kami lihat semuanya berjalan dengan baik, tentu akses pembiayaan perbankan akan kami berikan,” katanya lagi. 

Di akhir pertemuan, Sonny mengatakan bahwa teknologi ini dapat digunakan atau direplikasi di berbagai desa pesisir sebagai pemberdayaan masyarakat dan pembangunan Desa dan kawasan dalam pengembangan prukades dan Bumdes. Untuk itu, perlu dibuat tim kecil dan demplot sebagai  contoh untuk masyarakat. (*)

Categories: